Calciopoli : Skandal Terbesar Sepakbola Eropa di Abad 21

Calciopoli adalah salah satu skandal pengaturan skor terbesar di abad 21. Dalam skandal ini beberapa tim raksasa itali seperti Juventus, Fiorentina, dan Lazio didegradasi ke liga dengan kasta lebih rendah sementara AC Milan menerima pengurangan poin.

Hanya beberapa hari sebelum turnamen Piala Dunia FIFA 2006 dimulai, kapten tim nasional Italia, Fabio Cannavaro dan kawan-kawannya di Juventus, pemain asal Perancis David Trezeguet, terbang ke Roma untuk menjadi saksi dari dugaan kompetisi ilegal yang melibatkan ancaman dan kekerasan di GEA.

calciopoli skandal italia

Gianluigi Buffon, penjaga gawang Juventus dan pemain terbaik Azzuri pada saat itu, mendapat tuntutan yang lebih serius, dituduh terlibat dalam pertaruhan ilegal dalam permainan domestik.

Trezeguet gagal mengeksekusi penalti yang menyebabkan tim ayam jago harus menerima kekalahannya terhadap skuad Azzuri, dan sang kapten tim pemenang, Cannavaro mengangkat tropi piala dunia tinggi-tinggi agar semua orang bisa menyaksikan kemenangan mereka. Namun begitu, nasib berbeda telah menunggu sekembalinya mereka ke kampung halaman.

Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah, di mana pemenang Piala Dunia harus pulang ke rumah untuk langsung bertemu dengan investigator yang siap menuduh mereka dengan tuntutan korupsi.

Skandal Calciopoli

Di tahun 2004, dua rumor yang mengejutkan mulai muncul ke permukaan. Yang pertama adalah dugaan pemain Juventus yang menggunakan doping di dalam pertandingan sementara kasus lain mengatakan bahwa tim berseragam zebra ini terlibat perjudian ilegal dan bekerja sama dengan wasit. Dengan rumor tersebut, pasukan khusus dibentuk dan polisi Itali mulai melakukan investigasi terhadap kasus ini.

Meski kedua rumor tersebut tidak terbukti karena tidak bisa menemukan bukti yang cukup, hasil penyadapan dan investigasi mengantarkan ke skandal yang lebih besar: Calciopoli.

luciano moggi

Bukti yang mengejutkan namun belum bisa dikatakan meyakinkan dari penyadapan tersebut menunjukan bahwa direktur olahraga Juventus saat itu, Luciano Moggi, melakukan komunikasi dengan seseorang dari organisasi yang mengatur penempatan wasit, dengan cara “eksklusif”.

Diduga Moggi berusaha untuk mempengaruhi prediksi skor dengan memilih wasit tertentu yang dianggapnya akan lebih menguntungkan Juventus atau setidaknya seseorang yang bisa dipengaruhi untuk mendukung kemenangan si Nyonya Tua.

Cara Pendekatan Moggi & Sistem Dibalik Calciopoli

Untuk bisa memahami sistem, setidaknya kita harus lebih memahami dan tahu sedikit tentang siapa itu Luciano Moggi. Lahir di Tuscany, Luciano dengan cepat naik jabatan menjadi seorang manajer di kantor tiket kereta api. Pada saat itulah Moggi berteman dengan seorang tukang roti yang bekerja juga menjadi pencari bakat sebagai pekerjaan sampingan. Dari situ Moggi mulai mengenal sepak bola.

Moggi adalah seorang pedagang yang cerdas dengan mata yang jeli untuk seorang pencari bakat muda. Dia memulai karirnya di sepak bola sebagai pencari bakat untuk Juventus di awal tahun 70-an. Moggi mulai berteman dengan para pemain bintang Juventus dan telah menjadi seperti kakak bagi mereka semua.

Sebagai anak kelahiran Tuscan, Moggi menjunjung tinggi budaya sana: Apa yang pergi, dia akan datang kembali. Sekali menjadi teman, selamanya akan menjadi teman. Inilah yang menjadi prinsip dasar dari hidup Moggi, oleh karena itu Moggi mempekerjakan kawannya si tukang roti untuk menjadi asistennya.

Tidak ada yang meragukan pengaruh besar Moggi terhadap sepak bola Italia yang bisa digunakan untuk membantu kemenangan Juventus (dan mungkin beberapa kemenangan tim lain). Namun tidak ada bukti yang bisa menunjukan secara pasti, bahwa pertandingan yang berlangsung selama ini telah dicurangi. Tidak pernah ditemukan pemain atau wasit yang terbukti menerima “amplop” darinya.

Meski begitu, entah bagaimana caranya tapi Moggi bisa memilih wasit untuk pertandingan yang akan berlangsung, mempengaruhi pemilihan pemain untuk tim lain, memiliki kekuasaan untuk menunda atau membatalkan pertandingan, dan sampai mempengaruhi liputan media di mana olahraga sepak bola sudah dianggap sebagai agama di negara ini.